Apa khabar hari ini, waktu?

Aku titipkan satu rindu ini buatmu,
agar ranum pada waktunya lalu menjaga waktu tuaku.

Matahari tak lagi kita rindukan,
kerana  mimpi masih ada kamu
ku katakan pada bintang-bintang yang benderang,ayuh malap !
kekasihku sedang sakit merindu




Kau menuliskan dirimu dalam puisi,
Bait sunyi yang kabur-kabur lagi,
lalu kupaku engkau dalam ingatan, kisahmu adalah ejaan yang paling tak sempurna
berjuta kata melayang
di angkasa
menjadi pelangi

Perang

di matamu, peluru
dadaku sasaran bisu
suara dia yang hilang
berganti ledakan tak berasas













Cintai aku malam ini.
Malam ini saja.
Kerana tiada besok untuk kita
" Dengan Tuhan pun aku rasa jauh, apatah lagi nak menjalinkan hubungan cinta dengan manusia. Aku tak layak lagi".

Fikir Anita sambil berak. 

Kepada kawan
daripada engkau memberikan aku kebenaran atau kesalahan,
kebaikan atau keburukan,
berikanlah kejujuran
kawan,
daripada engkau memberikan aku kesenangan atau kepedihan,
kesuksesan atau kegagalan,
tunjukkan aku keautentikan
entah diri ini abadi atau tidak,
entah rindu ini bertunas atau mati
ketulusan, getarnya memerdu,
hingga pergunugan menjauh

Rindu adalah rahsia cinta kita berdua.
Simpan dulu resahmu , sampai kapan? 

Mungkin ini suatu rasa yang sia-sia , 
Mungkin ini adalah cinta yang tak ditakdirkan. 

22 Februari 2014. 

Kalau kau ada baca, tolong khabarkan ke aku.
Entah mengapa aku lebih butuh sendiri sekarang , setelah sebuah janji kita garis di atas pasir, dengan rotan,dikelolakan malam

Bukan bosan benar memeras hati,

seperti puisi, tidak ada yang benar-benar total,
selalu ada celah mungil mengitari kata
ke mana kah puisi menepi ?

Aku tidak tahu itu .
Aku tidak lagi terpikat pada kata,huruf atau tinta,
Kali ini tanpa peta, dan aku lupa jalan pulang.

Astaga ,kau menungguku, di titik atas, di deret-deret, huruf terakhir kata
'puis-i'?



Dari Jakarta, dengan cinta

Dari Jakarta, dengan obsesi .

Saya terfikir , adakah orang itu mencinta, bilamana lakunya obsesi? Adakah dia masih mencinta, setelah obsesinya tamat punca? Adakah dia meletakkan cinta dalam lakunya obsesi? Ataupun obsesinya cuma kosong , tanpa lauknya cinta?



Cinta, jawablah .
apa cerita meng-aduh sedih , gelakkan saja lah derita itu semua !

- pak abu , 78tahun . 
ke mana saya pergi?
Ada sa-orang yang selekeh di PerkuburanNavotas , membunyikan gitarnya untuk suatu malam yang, separa gelabah .



Menurut Samira , dia cuma bercerita tentang tubuh, dalam keseluruhannya, kehayatannya.Dia mengudarakan suara suara sengau, yang kadang kadang terselit 'wilayah ini bukan wilayah yang menjadi, malah memulai.' Samira selalu ada di situ, duduk mencangkung dan bila terlalu penat, dia baring saja di situ, biarpun tanah sedang berselimutkan buangan-buangan dari kota.Dan Samira menghabiskan petangnya,mendengar falsampah-falsampah dari orang tua itu .


Kita ini berangkat dari kehinaan . Kota kota besar terlalu dihantui dongeng . Sementara wilayah wilayah kecil, seakan tenggelam .Kita ini, rela hidup bercompang camping. Kita ini, terlalu memandang ironi. Sedar atau tidak, semua ini menjadikan kami -kami, separuhwarga belaka.

Sudahlah.Kami ini cuma Samira dan Orang tua Yang Selekeh .
1)
Pesta sudah selesai.
Jadikan aku selembar kain basahan untuk membersihkan meja perjamuanmu.



2)
Usai duka melewat,kau tertawa dan berkata, hidup ini penuh lelucon !


"apa khabar" adalah suatu soalan yang tidak aku pasti jawapannya . Sama ada mereka menuntut perkhabaran dari segi fizikal, atau mental, ataupun aku perlu menjawab "baik saja" seperti kelaziman yang mereka mereka yang lain berikan. Mungkin aku perlu jawab " macam biasa.." dengan harapan mereka tahu 'macam biasa' aku ini yang bagaimana. Tidakpun, aku bikin jawapan ini  " Oh tidak baik, aku begitu sakit" dan kemudian mereka menanyakan lagi "sakit yang bagaimana" atau " selesai ke rumah sakit?" dan dari cara cara mereka aku mentamsilkan mereka begitu prihatin , dan dari lagak mereka jua mereka seperti sudah menyediakan solusi untuk sakitku ini. 

Jadi aku harus bagaimana? "apa khabar" adalah suatu soal yang sukar untuk seorang yang tidak tahu keadaan dirinya sendiri . 
"Ke mana sepi pergi ? Ke kuburan yang tidak hingar . Anak Ghazi pernah mengungkapkan ini kepada aku , sepi itu indah , tapi dalam senyap, dia membunuh tanpa prejudis " dan aku seperti keasingan, dan dia berbisik sekali lagi, "kamu harus berterima kasih kepada dia yang membunuh itu , " dan aku seperti keasingan lagi . Kemudian pada suatu malam yang sepi , aku seperti mengerti apa itu sepi . Dan secara sepi , aku seperti faham mengapa sepi . Tapi aku seperti keterasingan juga , kerana aku belum menemui, siapa sepi "


Coming Soon Circa September


Ada sebuah jalan , yang dibawahnya api dan duri . Dan kamu bersungguh sungguh menguatkan diri agar tidak jatuh ke bawah . Dan jalan itu namanya, taqwa .

Battle, 2012

Battle , 2012
Acrylic on canvas
21cm X 21 cm