"apa khabar" adalah suatu soalan yang tidak aku pasti jawapannya . Sama ada mereka menuntut perkhabaran dari segi fizikal, atau mental, ataupun aku perlu menjawab "baik saja" seperti kelaziman yang mereka mereka yang lain berikan. Mungkin aku perlu jawab " macam biasa.." dengan harapan mereka tahu 'macam biasa' aku ini yang bagaimana. Tidakpun, aku bikin jawapan ini  " Oh tidak baik, aku begitu sakit" dan kemudian mereka menanyakan lagi "sakit yang bagaimana" atau " selesai ke rumah sakit?" dan dari cara cara mereka aku mentamsilkan mereka begitu prihatin , dan dari lagak mereka jua mereka seperti sudah menyediakan solusi untuk sakitku ini. 

Jadi aku harus bagaimana? "apa khabar" adalah suatu soal yang sukar untuk seorang yang tidak tahu keadaan dirinya sendiri . 
"Ke mana sepi pergi ? Ke kuburan yang tidak hingar . Anak Ghazi pernah mengungkapkan ini kepada aku , sepi itu indah , tapi dalam senyap, dia membunuh tanpa prejudis " dan aku seperti keasingan, dan dia berbisik sekali lagi, "kamu harus berterima kasih kepada dia yang membunuh itu , " dan aku seperti keasingan lagi . Kemudian pada suatu malam yang sepi , aku seperti mengerti apa itu sepi . Dan secara sepi , aku seperti faham mengapa sepi . Tapi aku seperti keterasingan juga , kerana aku belum menemui, siapa sepi "


Coming Soon Circa September


Ada sebuah jalan , yang dibawahnya api dan duri . Dan kamu bersungguh sungguh menguatkan diri agar tidak jatuh ke bawah . Dan jalan itu namanya, taqwa .

Battle, 2012

Battle , 2012
Acrylic on canvas
21cm X 21 cm

Pada suatu waktu di ketiak malam , Helios menanyakan soalan kepada Augustus .Temannya ketika itu sedang menulis surat , lalu dihulung-gulung, dan diselitkan di celah kaki merpati .

" Pernah punya pengalaman , berjalan dalam hidup tanpa sesuatu di atas kamu ? " 
Augustus cuma tersengih . kemudian menyambung menulis di atas kertas yang lain .

" Pernah punya perasaan, bila kosong itu milik kamu sep
enuhnya ? " Helios tidak puas hati . Dia kemudian mendekat , mengambil tempat di hadapan sahabatnya . Augustus kemudian menyalakan lilin . 

"Api adalah falsafah kerinduan . Api hadir dalam rasa sunyi, ketika malam di mana aku sedang mencicip surat di celahan kaki burung . Pernah fikir ke mana nyala api setelah padam ? Ke mana buih setelah ombak ? Ke mana nyawa setelah nafas ? Sahabatku , Helios , kita tidak memiliki sesiapa, apa apa , tapi kita dimiliki sesuatu dan segala macam perkara . "

Augustus menamatkan isi surat dengan ucapan bonne nuit . Memandang Helios dengan serius .

"Merpati adalah hewan yang tidak ragu ragu dalam soal peranan hidupnya di muka bumi . Ketika perang, ia mengharungi jutaan mayat yang bergelimpangan sepanjang perjalanannya . Tidak berhenti untuk menangisi perkara perkara buruk yang terjadi . "

helios memperbetulkan duduknya . "Merpati dan api menyampaikan kerinduan" , sambung Augustus lalu beredar meninggalkan kamar tersebut .

helios memandang ke arah meja. Berus dakwat masih basah dan dibiarkan bersebelahan secebis kertas . Ada tulisan yang sengaja dibiarkan untuk dibaca.

'Aku rindu untuk dikenali' - Tuhan .